Senin, 04 Mei 2015

Classrom Attack

Kalo di saat liburan sekolah biasanya suasana kelas, kantin, matematika, ngutang , dan somay itu beberapa aspek yang bikin gue kangen sama sekolah. Itu juga kangen kalo gue lagi  gak liburan kemana-mana sih, bengong dan menunggu keajaiban ada tiket liburan pergi ke Jepang turun dari langit biru yang indah permata permai. Apalagi kalo bibi kantin udah bilang gini, “nah, nak yayang. Mau beli apa? Santai, ngambil aja dulu, bayar belakangan”. Pelajaran Matematika, yap, itu juga salah satu aspek yang bikin gue kangen sama suasana kelas. Karena matematika, kelas gue mempunyai kekompakan yang sangat berkobar-kobar, yang menjadikan solidaritas antar murid sangat terasa cetar sekali. Sayangnya itu semua terjadi ketika ulangan mendadak dan pr yang terlupakan akibat kebanyakan maen game online pada larut malam.

Temen-temen gue di sekolah  kebaikannya patut diacungi jempol, apalagi kalo udah ngebolehin gue buat minjem uang jajannya. Emang kayaknya gue jahat banget, gue juga bilang baik karna ada Simbiosis Komensalismenya. Karakter temen-temen gue emang bermacam-macam, kayaktemen gue yang satu ini, namanya Dony, ia berumur 16tahun, zodiaknya pisces, shio nya tikus, makanan yang paling ia sukai adalah bata..gor, ada satu hal yang bikin gue males kalo lagi ngomong sama dia, yaitu suatu aroma batagor kadaluwarsa yang selalu tersampaikan ke hidung gue.”heee brooo, pr lu udaaah beeloom?” (tulisan tadi harusnya diketik dengan warna hijau), dony berkata dengan polosnya, dan gue menjawab dengan muka pucat penuh kesabaran, “belum..sikat gigi”, jawaban gue seketika itu menjadi ikutan ngawur, dan kelas terasa sangat  gelap, yap  gelap.

 Temen gue yang satu ini, karakternya simpel, kalo lagi pelajaran bahasa, dia tidur dengan begitu pulasnya, dan tanpa menghiraukan suara dengkurannya yang selalu membuat kami ingin melakukan pelemparan batagor basi secara masal. Biasanya, dia tidur di atas ransel sebagai alas bantalannya. Bahkan, kalo gue liat sepintas, di atas ranselnya itu selalu ada genangan air yang membentuk satu kepulauan, gue suka bilang gini ke Joko,  temen sebangku gue, “Ko liat tuh si Dony, dia tidur ngorok bangeetz, huaa dia bikin pulau di ranselnya”, dengan kalemnya  Joko menjawab “yoi bro, nah sekarang lo tau kan, kalo mau pulau lo gak usah  ngeluarin duit lagi kayak yang di tipi-tipi itu. Lo tidur aja di ranselnya si Dony, pasti ada pulau muncul dari permukaan”.
Tak lama kemudian, Guru bahasa pun mengetahui kelakuan muridnya yang satu ini. Beliau menyuruh Asep (salah satu teman gue yang kebanyakan makan tahu bulat) untuk membangunkan siswa yang kebanyakan maen game online pada malam hari itu. Asep pun berkata sembari mengoyang-goyangkan badan Dony , “Don, don bangun, don, don bangun don, ayo lo pasti bisa!”,
Asep pun berkata lagi dengan so bijaksananya, “Pak dia masih tidak mau bangun pak. Pak, saya sebelumnya meminta izin, jikalau saya boleh memakai cara andalan saya pak?”, pak Guru pun menjawab, “yasudah silakan, asal tidak menyakiti hati dia saja”. Asep pun mulai membuka sepatu dan kaos kaki lusuhnya itu, “nah”, seperti dugaan gue sebelumnya, ia menempalkan kaos kaki lusuhnya itu ke hidung Dony, “Nih rasain lu aroma terapi kaos kaki gue don”, terciumlah aroma terapi itu, dan tak lama kemudian Dony  berkata dengan matanya yang masih terpejam itu “hmm, bau apa nih? Kayak bau mulut naga”. Tak lama kemudian dia membuka matanya, dan dengan polosnya ia berkata, “SOMAY! MANA SOMAY GUE?”, pak guru pun berkata, “Somay? Kamu memangnya tadi sedang apa?” Dony menjawab dengan matanya yang masih sepet, “tadi sewaktu istirahat kan saya lagi beli somay  pak, dibungkus. Terus, setelah saya sudah membelinya, saya jalan ke kelas bersma Asep, terus saya merasakan kantuk yang amat teramat sekali, tapi saya yakin tadi saya tidak tidur Pak”, Pak guru pun menghela nafas, dan berkata, “Don? Sekarang kamu cuci muka, terus masuk ke kelas dan kerjakan Buku paket Bahasa halaman 56 sampai 58, minggu depan kumpulkan, jangan ulangi sifat jelekmu itu, tidur di kelas”. Asep berkata ke Dony “rasain lu! Siapa suruh tidur di kelas”, Dony pun  berkata ke Asep dengan mukanya yang kebingungan itu, “HAH? gue tidur? Masa sih? Terus Siomay gue mana?”,  Asep pun berkata, “Yaelah lu masih aja nginget siomay, tuh di kolong bangku”, dony berkata ke pak guru, “Pak maafin saya pak, saya tidak akan mengulangi kejadian ini lagi”. Berulang kali Dony berkata seperti itu ke guru-guru yang mengajar di kelas gue, tapi tetep aja dia tidur di keals, pernah satu waktu dia tidur juga, dan ketika dibangunin dia bilang gini “RAISA KAMU CANTIK BANGET , RAISA I LOVE YOUUU”.

Satu tahun gak kerasa banget, sekarang udah mau kenaikan kelas aja. Senang, sedih, asem, asin, manis, pahit, kecutnya udah sama-sama kita rasain di kelas ini, mungkin 3 tahun pun akan sangat singkat, gue dan temen-temen semakin dewasa, kita bakal mengambil pilihan yang akan kita tuju selanjutnya. Awalnya emang susah buat adaptasi sama lingkungan baru, bangku baru, tempat ngutang yang baru, pokoknya yang baru-baru deh kayak baju lebaran, walau mereka kadang gesrek dan mencoba menularkan kegesrekan itu kepada gue, tapi gue merasa senang selagi sama mereka,kami juga senang karna berada di jalur yang benar, be positif thinking!

Minggu, 03 Mei 2015

KENANGAN MENGUSIK HATI

Suara angin di musim panas ini, mengingatkanku ke segores kenangan indah itu. Delapan tahun yang kurang lambat, hari demi hari begitu cepat berlalu, layaknya aroma tempe goreng yang tak sempat ku makan pagi tadi. Jalan cerita yang sangat tak terduga, dan secara alami alur kehidupanlah yang mengantarkanku ke tempat ini. Aku rasa ada yang kurang saat musim panas kali ini. Aku lupa, lagu apa yang ku putar waktu itu?

Liburan tengah semester tahun lalu, aku hendak berlibur ke tempat yang damai, tempat dimana aku dilahirkan, tempat  aku menerima sosialisi primer dan sekunder. Hm, sangat senang bisa kembali ke sana, suasana sejuk di hatiku pun kembali hadir. “Bu, apa benar besok kita akan ke sana?” tanyaku dengan penuh semangat. “iya, kamu tampak semangat sekali? Siapkan saja barang-barang yang akan kamu bawa”, Jawab ibu, “siap bu” dengan penuh semangat aku menjawabnya. Malam hari sebelum keberangkatan, aku tak bisa tidur, mataku masih tetap menonton Anime di depan layar laptopku. Alasan dasar yang membuatku tak bisa tidur yaitu hanya karena ingin ceepat hari esok. Tik.. tok.. tik.. tok... tak kusangka waktu sudah menunjukan pukul  12 malam, “huft.. tidur..tidurr, fyuh banget dah pengen cepet besok” ucapku. Hari sabtu yang cerah, “Yosh! Aku siap, aku siap, aku siap!” ucapku mengawali haru itu. Sepanjang perjalanan aku sangat menikmati pemandangan alam Indonesia yang indah permata permai. Akhirnya setelah perjalanan yang sangat melelahkan, kami sampai di tugu “Selamat Datang”. Masih seperti dulu, kota ini tak akan berubah bagiku, kota dimana aku hidup dan masih menunjukan warnanya.

Kurang dari satu jam akhirnya kami sampai di “Anggrek IV”,  tempat yang indah, nama dari tempat sejuta cerita. Tapi, sekarang telah banyak perubahan di sana, lapangan tempat kami bermainpun sekarang telah menjadi kebun yang ditanami pepohonan pisang dan sejenisnya, bahkan bangunan sekolah, rumah-rumah, dan teman-temanku pun sekarang entah berada dimana. Aku berlibur ke sana untuk berkunjung ke rumah pamanku, yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku yang dulu. Rumahku itu sekarang telah  berbeda, fyuh mungkin lebih tepatnya rumah orang lain, karena sekarang rumah itu telah dimiliki oleh keluarga yang berbeda. Mungkin  memang tempat itu telah banyak perubahan, tapi seperti apa yang ku bilang, semuanya takan berubah bagiku.

Setelah beristirahat dan bercengkrama, pada sore hari aku pun memutuskan untuk meminjam sebuah sepeda tua milik paman untuk sekedar berkeliling dan mengingat masa kecil yang sangat indah itu. Sepanjang perjalanan, aku sangat senang bisa kembali ke tempat itu, banyak yang tertingggal di sana, kenangan, cinta, tujuan, dan masih banyak aspek yang membuatku senang untuk berkunjung ke sana. Di tengah perjalanan, aku bertemu dengan salah satu teman kecil ku, aku menyapanya dan percakapan kami pun tidak nampak seperti 8 tahun tak bertemu, tapi percakapan kita layaknya baru betemu kemarin sore, tak lama kemudian temanku pun berkata bahwa ia harus segera pulang, “oia, maaf aku harus pulang nih, ada urusan yang belum kelar, next time ngobrol-ngobrol lagi sama temen yang lain juga lah, emang kamu kapan pulang?”, akupun berkata, “oh ok, saya juga mau lanjut jalan-jalan aja. Kayaknya besok juga pulang, yup mungkin kapan-kapan  ngobrol satai lagi sama yang lain.” Aku tau, sekarang sudah beda masanya, setahuku dulu sebab dia pulang saaat bermain yaitu, karena belum mandi atau akan membeli tamagotchi baru di toko mainan. Aku pun dengan senang  melanjutkan perjalan itu. Aku pulang kembali ke rumah paman dengan persaan senang, senang karena ternyata temanku masih ingat padaku. Hari itu menjadi salah satu hari terbaik di tahun kemarin. Dan sekarang aku tersadar, kita harus melangkah ke depan, tapi kenangan itu adalah sesuatu yang tak bisa hilang dan tak bisa diubah.

Masa kecil yang bahagia dan sangat menyenangkan, masa dimana aku membeli chiki hanya karna hadiahnya, masa dimana anak-anak bermain tidak memakai server, dan masa dimana kita  menghabiskan malam minggu dengan “kotak pos belum diisi”  Kota sejuta kenangan dan kota berjuta cerita, itulah julukan tersendiri dariku, pergi ke sana layaknya kembali ke masa sekarang. Dan takan ada yang tau kemana aku akan berlayar, yang jelas ke tempat yang indah dan paling cerah.