Suara angin di musim panas ini, mengingatkanku ke segores kenangan
indah itu. Delapan tahun yang kurang lambat, hari demi hari begitu cepat
berlalu, layaknya aroma tempe goreng yang tak sempat ku makan pagi tadi. Jalan
cerita yang sangat tak terduga, dan secara alami alur kehidupanlah yang mengantarkanku
ke tempat ini. Aku rasa ada yang kurang saat musim panas kali ini. Aku lupa, lagu
apa yang ku putar waktu itu?
Liburan tengah semester tahun lalu, aku hendak berlibur ke
tempat yang damai, tempat dimana aku dilahirkan, tempat aku menerima sosialisi primer dan sekunder. Hm,
sangat senang bisa kembali ke sana, suasana sejuk di hatiku pun kembali hadir.
“Bu, apa benar besok kita akan ke sana?” tanyaku dengan penuh semangat. “iya,
kamu tampak semangat sekali? Siapkan saja barang-barang yang akan kamu bawa”,
Jawab ibu, “siap bu” dengan penuh semangat aku menjawabnya. Malam hari sebelum
keberangkatan, aku tak bisa tidur, mataku masih tetap menonton Anime di depan
layar laptopku. Alasan dasar yang membuatku tak bisa tidur yaitu hanya karena
ingin ceepat hari esok. Tik.. tok.. tik.. tok... tak kusangka waktu sudah
menunjukan pukul 12 malam, “huft..
tidur..tidurr, fyuh banget dah pengen cepet besok” ucapku. Hari sabtu yang
cerah, “Yosh! Aku siap, aku siap, aku siap!” ucapku mengawali haru itu.
Sepanjang perjalanan aku sangat menikmati pemandangan alam Indonesia yang indah
permata permai. Akhirnya setelah perjalanan yang sangat melelahkan, kami sampai
di tugu “Selamat Datang”. Masih seperti dulu, kota ini tak akan berubah bagiku,
kota dimana aku hidup dan masih menunjukan warnanya.
Kurang dari satu jam akhirnya kami sampai di “Anggrek IV”, tempat yang indah, nama dari tempat sejuta
cerita. Tapi, sekarang telah banyak perubahan di sana, lapangan tempat kami
bermainpun sekarang telah menjadi kebun yang ditanami pepohonan pisang dan
sejenisnya, bahkan bangunan sekolah, rumah-rumah, dan teman-temanku pun
sekarang entah berada dimana. Aku berlibur ke sana untuk berkunjung ke rumah
pamanku, yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku yang dulu. Rumahku itu
sekarang telah berbeda, fyuh mungkin
lebih tepatnya rumah orang lain, karena sekarang rumah itu telah dimiliki oleh
keluarga yang berbeda. Mungkin memang tempat
itu telah banyak perubahan, tapi seperti apa yang ku bilang, semuanya takan
berubah bagiku.
Setelah beristirahat dan bercengkrama, pada sore hari aku pun
memutuskan untuk meminjam sebuah sepeda tua milik paman untuk sekedar berkeliling
dan mengingat masa kecil yang sangat indah itu. Sepanjang perjalanan, aku
sangat senang bisa kembali ke tempat itu, banyak yang tertingggal di sana,
kenangan, cinta, tujuan, dan masih banyak aspek yang membuatku senang untuk
berkunjung ke sana. Di tengah perjalanan, aku bertemu dengan salah satu teman
kecil ku, aku menyapanya dan percakapan kami pun tidak nampak seperti 8 tahun
tak bertemu, tapi percakapan kita layaknya baru betemu kemarin sore, tak lama
kemudian temanku pun berkata bahwa ia harus segera pulang, “oia, maaf aku harus
pulang nih, ada urusan yang belum kelar, next time ngobrol-ngobrol lagi sama
temen yang lain juga lah, emang kamu kapan pulang?”, akupun berkata, “oh ok,
saya juga mau lanjut jalan-jalan aja. Kayaknya besok juga pulang, yup mungkin
kapan-kapan ngobrol satai lagi sama yang
lain.” Aku tau, sekarang sudah beda masanya, setahuku dulu sebab dia pulang
saaat bermain yaitu, karena belum mandi atau akan membeli tamagotchi baru di
toko mainan. Aku pun dengan senang melanjutkan
perjalan itu. Aku pulang kembali ke rumah paman dengan persaan senang, senang
karena ternyata temanku masih ingat padaku. Hari itu menjadi salah satu hari
terbaik di tahun kemarin. Dan sekarang aku tersadar, kita harus melangkah ke
depan, tapi kenangan itu adalah sesuatu yang tak bisa hilang dan tak bisa
diubah.
Masa kecil yang bahagia dan sangat menyenangkan, masa dimana
aku membeli chiki hanya karna hadiahnya, masa dimana anak-anak bermain tidak
memakai server, dan masa dimana kita
menghabiskan malam minggu dengan “kotak pos belum diisi” Kota sejuta kenangan
dan kota berjuta cerita, itulah julukan tersendiri dariku, pergi ke sana
layaknya kembali ke masa sekarang. Dan takan ada yang tau kemana aku akan
berlayar, yang jelas ke tempat yang indah dan paling cerah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar