Setelah gue masuk SMA, pengetahuan gue tentang
cinta sedikit demi sedikit mulai bertambah, keculunan gue dalam urusan cinta pun
mulai menghilang, Sampai pada suatu sore, Teori ‘pandangan pertama’ pun terjadi.
Semuanya dimulai pada suatu siang di
lapangan sekolah, perasaan suka yang gue
alami saat itu berlangsuung ketika gue ngelihat seorang kakak kelas yang berparas cantik, sewaktu pemilihan ketua osis
yang diadakan di sekolah gue, kebetulan, waktu itu gue jadi salah satu panitia
di acara tersebut, gue pertama kali ngelihat dia pada saat dia mengajukan
sebuah pertanyaan kepada salah satu calon. Dengan wajahnya yang rupawan, dia
mengacungkan lengannya dengan begitu semampai, suaranya pun begiu mempesona, aura
kecantikannya membuat tanaman yang layu kembali hidup seperti semestinya, seperti
remaja cowok lainnya yang ngelihat cewek cantik, gue hanya bisa mangap-mangap
dengan tatapan tajam yang seolah-olah memancarkan sinar bulan. Tapi kalau soal
cinta bin punya pacar, kayaknya gue masih susah buat ngungkapin perasaan ke
wanita idaman gue, apalagi ini sama kakak kelas cantik yang gaul abis,
dibandingkan dengan gue, anak kelas satu yang gak gaul abis.
Susahnya gue untuk ngungkapin perasaan ke cewek
yang gue sukai, sudah lama gue rasakan, gak tau karena sifat gue yang mungkin
masih kekanak-kanakan, atau mungkin gue yang belum terbiasa dengan jatuh cinta,
tapi beberapa temen-temen gue sempat berkata begini: ‘Yayang, kok lo dewasa banget sih?’, atau gue yang
salah pengertian dengan ungkapan yang mereka katakan sebenarnya, ‘Yayang, kok
lo tua banget sih?’. Gue jomblo bukan berarti gue gak punya mantan, sewaktu SMP
gue juga pernah punya pacar yang sekarang menjadi mantan, gue pernah melalui
masa dimana uang jajan yang gue punya hanya untuk membeli pulsa isi ulang,
waktu itu semuanya terasa indah, karena pacar gue adalah kakak kelas cantik dengan
rambut kinclong hitam sebahu yag ia punya, dulu gue merasa hanya gue satu-satunya cowok yang paling hebat , keren, dan bokek di
SMP. Hari-hari berjalan begitu indahnya, setiap hari gue berharap bisa ngelihat
dia, gue pun menyukai dia secara diam-diam, sampai akhirnya suatu hari, gue
mendapatkan senyuman manis yang keluar dari wajahnya, saat itu gue seneng
banget.
Gue selalu bingung harus mulai dari mana kalo
mau pendekatan sama cewek. Apa gue langsung bilang, ‘hay, nama kamu siapa? Bapak
kamu tukan sayur yak?, atau gua pura-pura nabrak dia yang lagi jalan, terus
kenalan, minta nomer hp, pin bb, twitter, path, no sepatu, terus gua makan mie
ayam?. Seketika itu pun gue menjadi
seorang remaja aneh yang sering mendengarkan musik dengan suara yang keras pada
pagi hari. Gue berpikir kenapa temen-temen gue begitu mudahnya mempunyai pasangan di hidupnya, berbanding
terbalik dengan temen-temen gue yang lebih beruntung dalam kisah cintanya, gue
dan keseharian gue hanya dipenuhi dengan
ngestalk akun twitter idol
yang gue suka di AKB48, gue sadar diri, mereka tak mungkin ngebales mensyenan
norak yang gue ketik, mereka gak muntah lihat menseyenan gue aja udah
bersyukur. Biasanya sebelum dan sesudah beraktivitas gue ngestalk idol gue, ia
idol gue, wanita yang tak mungkin gue kencani di bawah turunan salju ‘Pagi..
Semangat yak buat hari ini, jangan lupa makan.. Nanti kamu jadi ke toko buku?’.
Gue
jatuh cinta, tapi gue gak tau harus mulai dari mana, jadi, pelarian pertama gue
adalah, browsing di internet: “Bagaimana cara PDKT yang baik dan benar?”,
setelah gue menekan tombol enter,
munculah deretan artikel dengan pertanyaan seperti apa yang gue ketik, ternyata
masih banyak remaja cowok bego yang mempunyai persoalan sama seperti yang gue
rasakan, tapi buat anak culun dengan kolor lusuh kayak gue, gue gak ngerti
seupil Sasuke pun, jawaban-jawaban yang muncul pun seakan-akan datang dan pergi
dengan semaunya, untungnya kebegoan gue gak muncul semua pada saat itu, dengan
hati yang tegar dan bulu ketiak yang berkobar, gue mencoba nelpon teman SMP gue
yang bernama Riski, seorang remaja konteet dengan kacamata hitamnya yang kedodoran,
gue pijit beberapa digit nomor telpon
rumah nya, terdengarlah suara yang agak asing di telinga gue, ‘halo selamat
malam, ini dengan keluarga mediana.’
‘Iya om
ini dengan saya yayang, temannya riski, riskinya ada?’ gue menjawab
‘Kampret
lo jahat banget, lo udah gak kenal sama suara gue. Iya ini gue Risky, giamana
kabar lo? Ada apa nih malem-malem telpon?’ Riski menjawab
‘Wah
maaf ki, soalnya suara lo mirip sih.’, gue berkata sambil cengengesan, gue
melanjutkan pembicararaan, ‘Baik ki, lo juga baik kan? Jadi gue butuh bantan lo
nih ki, gue mau pdkt sama cewek, lo kan
agak bisa tuh kalo buat puisi, buatin gue puisi tentang adek kelas yang suka
sama kakak kelas yang cantik dong, jadi intinya tolongin gue ya.’
‘Baik juga.. Yak ampun ini bocah, permasalahan
anak SMP masih aja dibawa ke SMA, lo sampe sekarang masih belum bisa bikin
kata-kata sendiri buat cewek yang lo suka?’ jawab Riski, sedikit menyindir,
perkataan tadi terdengar tajam sekali di telinga gue
Percakapan gue sama Risky semakin lama semakin
ngawur, tak lama kemudian gue pun menutup percakapan bego itu, sebetulnya gue
masih kurang ngerti sama yang diomongin Riski teman gue itu.
Akhirnya gue ke sekolah seperti biasa, dengan
ransel hitam yang gue pakai, dengan muka pucat penuh tugas di pikiran gue, gue
memandang jarum jam di lobby sekolah
dengan tatapan tajam, kurang lebih sepuluh menit lagi menuju jam pertama, kebiasaan
gue yang selalu lupa pakai jam tangan ke sekolah, membuat gue harus bergegas
masuk kelas dengan ketiak yang basah. Waktu istirahat pun tiba, tatapan gue
sewaktu istirahat tak bisa gue lepaskan dari dia yang ada manis-manisnya itu, kebetulan
sewaktu istirahat, dia seringkali ada di lobby untuk wifian atau sekedar istirahat dari suasana kelas yang agak menjenuhkan.
Setiap istirahat tiba gue selalu memandang paras cantiknya itu dari kejauhan,
gue bersyukur pada saat itu, karena kelas gue ada di sebelah loobby sekolah, ‘Hey, ngelamun aja,
neliatin apa sih?’ kata Fani, teman gue
‘Eh gue
enggak ngelamun, gue lagi liatin kakak cantik itu, dia itu namanya Febi kan
kelas dua belas-1?’ Gue berkata
‘Oh itu, iya namanya Febi, dia baik loh
orangnya, gue pernah ngobrol sekali sama dia waktu kumpulan organisasi. Nah, lo
naksir kan sama dia?’ jawab Fani
‘Yak gitu lah’
‘Lo mau gue mintain nomer hpnya?’ Fani
bertanya
‘Gak usah lah, gue kan pria sejati, jadi harus
pake usaha sendiri buat dapetin nomer hpnya’ jawab gue menutup obrolan, sembari
memperlihatkan tangan kanan gue yang seolah-olah berotot kekar
Akhirnya setelah gue berpikir keras selama
satu minggu terakhir, gue menyimpulkan strategi yang mau gue lakukan, sambil
berkata sendiri depan kaca kelas, ‘gue juga kalo bisa ngasih gift, yak gift’, tapi gue pikir lagi kayaknya gak mungkin banget untuk ngasih
gift, beli tahu di pasar aja masih nawar,
gimana mau ngasih gift. Tapi dengan
tekad yang kuat, gue menunggu kesempatan yang sesuai dengan rencana gue, tapi
waktunya tak kunjung datang, kesibukannya yang akan menghadapi Ujian Nasional membuat gue untuk
menunggu hingga semuanya sesuai dengan rencana. Tapi sampai upacara kelulusan
tiba pun semuanaya tidak sesuai dengan rencana.
Hari upacara kelulusan pun tiba, gue datang ke
gedung tempat pelaksanaan upacara itu dengan hati yang senang, suara gue yang
kurang bagus pun memaksa gue untuk menjadi salah satu anggota paduan suara.
Hari itu menjadi hari terakhir gue bisa menatap wajahnya yang kemanisan itu,
dengan kebaya berwarna putih yang ia pakai, aura kecantikannya itu semakin
terlihat di mata gue. Gue bernyanyi sekeras mungkin, seakan-akan gue pengen dia
tau, gue ada di tempat itu buat dia, buat dia yang gue sukai. Setelah semua
acara selesai, gue memberanikann diri untuk kenalan sama dia. Kebetulan, waktu
itu dia lagi jalan sendirian sehabis ngorol sama temen-temennya, di luar gedung. Gue nyamperin dia dengan
nafas gue yang gak karuan, gue minta waktu sebentar buat ngobrol sama dia, ada
satu kebiasaan gue secara alami, perkataan gue dengan wanita yang gue sukai
selalu menjadi gagap, ‘ha.. ha.. hai
kak, maaf ganggu nih, kakak namanya febi kan? gue berkata dengan mulut gue yang
gemeteran
‘Iya dek, emang kenapa yak dek?’ ia berkata
dengan senyuman di wajahnya, perkataan pertamanya yang ia lontarkan kepada gue
terasa sangat manis sekali, gue merasa sedang berjemur di sisi pantai yang
dipenuhi martabak coklat kacang pada saat itu
‘Oh ini kak, itu, ini, eh, aku yayang dari
kelas sepuluh- 4, boleh minta pin Bbnya gak kak?
‘Aduh maaf banget dek, kakak gak punya Bbm’
jawab dia
‘Oh gak apa kak, nomer handphonenya aja, hehe’
Dia terdiam berpikir, ia pun berkata, ‘maaf juga dek, kakak gak punya
handphone’
Beberapa detik dari keheningan, ia pun pamit
pergi, gue melihat langkah kakinya dari belakang, tak jauh dari tempat gue
berdiri, terdengar suara ringtone “sakitnya tuh di sini” dari sebuah handphone
di dalam tas nya, ia menerima telpon tersebut, suara ringtone dari handphone nya
itu menambah kengenesan gue tentang percintaan. Gue terlalu bego untuk dia, gue
sekarang udah lega karena bisa mencoba kenalan sama dia, rasanya itu kayak
pengen pipis yang ditahan-tahan, dan ketika gue mengeluarkannya, titit gue
malah bocor dengan bengkak yang membekas
Dengan perasaan lesu, gue pun pulang dengan roti
hangat di genggaman tangan gue, di kelesuan gue saa itu, ada sisi positif
tersendiri yang bisa gue dapat, ada perasaan senang pada diri gue, gue senang
karena gue bisa kenalan sama cewek yang gue suka, gadis yang setahun ini
menjadi motivasi gue untuk tak lagi mengutang mie ayam, sekarang ia harus pergi
ke tempat yang tak gue ketahui. Hembusan
angin sore pada saat itu, membuat gue tersadar, gue hanyalah seorang adek kelas
dengan tatapan lusuh yang bau keringat, gue hanya bisa memandang dia tidak
pakai hati, dia hanya kakak kelas yang han