Minggu, 12 Juli 2015

CINTA YANG TAK TERSAMPAIKAN




Setelah gue masuk SMA, pengetahuan gue tentang cinta sedikit demi sedikit mulai bertambah, keculunan gue dalam urusan cinta pun mulai menghilang, Sampai pada suatu sore, Teori ‘pandangan pertama’ pun terjadi. Semuanya dimulai  pada suatu siang di lapangan sekolah, perasaan suka yang  gue alami saat itu berlangsuung ketika gue ngelihat seorang kakak kelas yang  berparas cantik, sewaktu pemilihan ketua osis yang diadakan di sekolah gue, kebetulan, waktu itu gue jadi salah satu panitia di acara tersebut, gue pertama kali ngelihat dia pada saat dia mengajukan sebuah pertanyaan kepada salah satu calon. Dengan wajahnya yang rupawan, dia mengacungkan lengannya dengan begitu semampai, suaranya pun begiu mempesona, aura kecantikannya membuat tanaman yang layu kembali hidup seperti semestinya, seperti remaja cowok lainnya yang ngelihat cewek cantik, gue hanya bisa mangap-mangap dengan tatapan tajam yang seolah-olah memancarkan sinar bulan. Tapi kalau soal cinta bin punya pacar, kayaknya gue masih susah buat ngungkapin perasaan ke wanita idaman gue, apalagi ini sama kakak kelas cantik yang gaul abis, dibandingkan dengan gue, anak kelas satu yang gak gaul abis.

Susahnya gue untuk ngungkapin perasaan ke cewek yang gue sukai, sudah lama gue rasakan, gak tau karena sifat gue yang mungkin masih kekanak-kanakan, atau mungkin gue yang belum terbiasa dengan jatuh cinta, tapi beberapa temen-temen gue sempat berkata begini: ‘Yayang,  kok lo dewasa banget sih?’, atau gue yang salah pengertian dengan ungkapan yang mereka katakan sebenarnya, ‘Yayang, kok lo tua banget sih?’. Gue jomblo bukan berarti gue gak punya mantan, sewaktu SMP gue juga pernah punya pacar yang sekarang menjadi mantan, gue pernah melalui masa dimana uang jajan yang gue punya hanya untuk membeli pulsa isi ulang, waktu itu semuanya terasa indah, karena pacar gue adalah kakak kelas cantik dengan rambut kinclong hitam sebahu yag ia punya,  dulu gue merasa hanya gue satu-satunya  cowok yang paling hebat , keren, dan bokek di SMP. Hari-hari berjalan begitu indahnya, setiap hari gue berharap bisa ngelihat dia, gue pun menyukai dia secara diam-diam, sampai akhirnya suatu hari, gue mendapatkan senyuman manis yang keluar dari wajahnya, saat itu gue seneng banget.

Gue selalu bingung harus mulai dari mana kalo mau pendekatan sama cewek. Apa gue langsung bilang, ‘hay, nama kamu siapa? Bapak kamu tukan sayur yak?, atau gua pura-pura nabrak dia yang lagi jalan, terus kenalan, minta nomer hp, pin bb, twitter, path, no sepatu, terus gua makan mie ayam?. Seketika itu pun  gue menjadi seorang remaja aneh yang sering mendengarkan musik dengan suara yang keras pada pagi hari. Gue berpikir kenapa temen-temen gue begitu mudahnya  mempunyai pasangan di hidupnya, berbanding terbalik dengan temen-temen gue yang lebih beruntung dalam kisah cintanya, gue dan keseharian gue hanya dipenuhi dengan  ngestalk akun twitter idol yang gue suka di AKB48, gue sadar diri, mereka tak mungkin ngebales mensyenan norak yang gue ketik, mereka gak muntah lihat menseyenan gue aja udah bersyukur. Biasanya sebelum dan sesudah beraktivitas gue ngestalk idol gue, ia idol gue, wanita yang tak mungkin gue kencani di bawah turunan salju ‘Pagi.. Semangat yak buat hari ini, jangan lupa makan.. Nanti kamu jadi ke toko buku?’.
 Gue jatuh cinta, tapi gue gak tau harus mulai dari mana, jadi, pelarian pertama gue adalah, browsing di internet: “Bagaimana cara PDKT yang baik dan benar?”, setelah gue menekan tombol enter, munculah deretan artikel dengan pertanyaan seperti apa yang gue ketik, ternyata masih banyak remaja cowok bego yang mempunyai persoalan sama seperti yang gue rasakan, tapi buat anak culun dengan kolor lusuh kayak gue, gue gak ngerti seupil Sasuke pun, jawaban-jawaban yang muncul pun seakan-akan datang dan pergi dengan semaunya, untungnya kebegoan gue gak muncul semua pada saat itu, dengan hati yang tegar dan bulu ketiak yang berkobar, gue mencoba nelpon teman SMP gue yang bernama Riski, seorang remaja konteet dengan kacamata hitamnya yang kedodoran, gue pijit beberapa digit nomor telpon rumah nya, terdengarlah suara yang agak asing di telinga gue, ‘halo selamat malam, ini dengan keluarga mediana.’
 ‘Iya om ini dengan saya yayang, temannya riski, riskinya ada?’ gue menjawab
 ‘Kampret lo jahat banget, lo udah gak kenal sama suara gue. Iya ini gue Risky, giamana kabar lo? Ada apa nih malem-malem telpon?’ Riski menjawab
 ‘Wah maaf ki, soalnya suara lo mirip sih.’, gue berkata sambil cengengesan, gue melanjutkan pembicararaan, ‘Baik ki, lo juga baik kan? Jadi gue butuh bantan lo nih ki, gue mau pdkt sama cewek,  lo kan agak bisa tuh kalo buat puisi, buatin gue puisi tentang adek kelas yang suka sama kakak kelas yang cantik dong, jadi intinya tolongin gue ya.’
‘Baik juga.. Yak ampun ini bocah, permasalahan anak SMP masih aja dibawa ke SMA, lo sampe sekarang masih belum bisa bikin kata-kata sendiri buat cewek yang lo suka?’ jawab Riski, sedikit menyindir, perkataan tadi terdengar tajam sekali di telinga gue
Percakapan gue sama Risky semakin lama semakin ngawur, tak lama kemudian gue pun menutup percakapan bego itu, sebetulnya gue masih kurang ngerti sama yang diomongin Riski teman gue itu.

Akhirnya gue ke sekolah seperti biasa, dengan ransel hitam yang gue pakai, dengan muka pucat penuh tugas di pikiran gue, gue memandang jarum jam di lobby sekolah dengan tatapan tajam, kurang lebih sepuluh menit lagi menuju jam pertama, kebiasaan gue yang selalu lupa pakai jam tangan ke sekolah, membuat gue harus bergegas masuk kelas dengan ketiak yang basah. Waktu istirahat pun tiba, tatapan gue sewaktu istirahat tak bisa gue lepaskan dari dia yang ada manis-manisnya itu, kebetulan sewaktu istirahat, dia seringkali ada di lobby untuk wifian atau sekedar istirahat dari suasana kelas yang agak menjenuhkan. Setiap istirahat tiba gue selalu memandang paras cantiknya itu dari kejauhan, gue bersyukur pada saat itu, karena kelas gue ada di sebelah loobby sekolah, ‘Hey, ngelamun aja, neliatin apa sih?’ kata Fani, teman gue
 ‘Eh gue enggak ngelamun, gue lagi liatin kakak cantik itu, dia itu namanya Febi kan kelas dua belas-1?’ Gue berkata
‘Oh itu, iya namanya Febi, dia baik loh orangnya, gue pernah ngobrol sekali sama dia waktu kumpulan organisasi. Nah, lo naksir kan sama dia?’ jawab Fani
‘Yak gitu lah’
‘Lo mau gue mintain nomer hpnya?’ Fani bertanya
‘Gak usah lah, gue kan pria sejati, jadi harus pake usaha sendiri buat dapetin nomer hpnya’ jawab gue menutup obrolan, sembari memperlihatkan tangan kanan gue yang seolah-olah berotot kekar
Akhirnya setelah gue berpikir keras selama satu minggu terakhir, gue menyimpulkan strategi yang mau gue lakukan, sambil berkata sendiri depan kaca kelas, ‘gue juga kalo bisa ngasih gift, yak gift’, tapi gue pikir lagi kayaknya gak mungkin banget untuk ngasih gift, beli tahu di pasar aja masih nawar, gimana mau ngasih gift. Tapi dengan tekad yang kuat, gue menunggu kesempatan yang sesuai dengan rencana gue, tapi waktunya tak kunjung datang, kesibukannya yang akan  menghadapi Ujian Nasional membuat gue untuk menunggu hingga semuanya sesuai dengan rencana. Tapi sampai upacara kelulusan tiba pun semuanaya tidak sesuai dengan rencana.

Hari upacara kelulusan pun tiba, gue datang ke gedung tempat pelaksanaan upacara itu dengan hati yang senang, suara gue yang kurang bagus pun memaksa gue untuk menjadi salah satu anggota paduan suara. Hari itu menjadi hari terakhir gue bisa menatap wajahnya yang kemanisan itu, dengan kebaya berwarna putih yang ia pakai, aura kecantikannya itu semakin terlihat di mata gue. Gue bernyanyi sekeras mungkin, seakan-akan gue pengen dia tau, gue ada di tempat itu buat dia, buat dia yang gue sukai. Setelah semua acara selesai, gue memberanikann diri untuk kenalan sama dia. Kebetulan, waktu itu dia lagi jalan sendirian sehabis ngorol sama temen-temennya,  di luar gedung. Gue nyamperin dia dengan nafas gue yang gak karuan, gue minta waktu sebentar buat ngobrol sama dia, ada satu kebiasaan gue secara alami, perkataan gue dengan wanita yang gue sukai selalu menjadi gagap,  ‘ha.. ha.. hai kak, maaf ganggu nih, kakak namanya febi kan? gue berkata dengan mulut gue yang gemeteran
‘Iya dek, emang kenapa yak dek?’ ia berkata dengan senyuman di wajahnya, perkataan pertamanya yang ia lontarkan kepada gue terasa sangat manis sekali, gue merasa sedang berjemur di sisi pantai yang dipenuhi martabak coklat kacang pada saat itu
‘Oh ini kak, itu, ini, eh, aku yayang dari kelas sepuluh- 4, boleh minta pin Bbnya gak kak?
‘Aduh maaf banget dek, kakak gak punya Bbm’ jawab dia
‘Oh gak apa kak, nomer handphonenya aja, hehe’
Dia terdiam berpikir, ia pun  berkata, ‘maaf juga dek, kakak gak punya handphone’
Beberapa detik dari keheningan, ia pun pamit pergi, gue melihat langkah kakinya dari belakang, tak jauh dari tempat gue berdiri, terdengar suara ringtone “sakitnya tuh di sini” dari sebuah handphone di dalam tas nya, ia menerima telpon tersebut, suara ringtone dari handphone nya itu menambah kengenesan gue tentang percintaan. Gue terlalu bego untuk dia, gue sekarang udah lega karena bisa mencoba kenalan sama dia, rasanya itu kayak pengen pipis yang ditahan-tahan, dan ketika gue mengeluarkannya, titit gue malah bocor dengan bengkak yang membekas
 
Dengan perasaan lesu, gue pun pulang dengan roti hangat di genggaman tangan gue, di kelesuan gue saa itu, ada sisi positif tersendiri yang bisa gue dapat, ada perasaan senang pada diri gue, gue senang karena gue bisa kenalan sama cewek yang gue suka, gadis yang setahun ini menjadi motivasi gue untuk tak lagi mengutang mie ayam, sekarang ia harus pergi ke tempat yang tak gue ketahui.  Hembusan angin sore pada saat itu, membuat gue tersadar, gue hanyalah seorang adek kelas dengan tatapan lusuh yang bau keringat, gue hanya bisa memandang dia tidak pakai hati, dia hanya kakak kelas yang han

Tidak ada komentar:

Posting Komentar