Sebelum liburan kenaikan kelas yang harus gue
resapi, beberapa minggu sebelum itu, gue dan
murid lainnya di sekolah harus berjuang di atas bangku-bangku yang penuh
dengan coretan tip-ek, “aku sayang kamu, tapi sayang mantan juga.”
“kamu gak pernah peka mha aQ” Kalimat-kalimat
absurd itu menambah betapa panasnya
pantat gue pada saat itu
Banyak temen-temen gue yang terjangkit penyakit
lebay seminggu sebelum ujian kenaikan kelas berlangsunng, apalagi ini ujian kenaikan kelas: penentuan nasib seorang murid yang naik kelas
ke tingkat selanjutnya atau sebaliknya.
Ujian ini juga merupakan ujian akhir bagi gue dan teman sekelas gue di
ruangan yang sama, tapi ada beberapa teman gue yang otaknya agak encer merasa biasa aja dengan yang namanya Ujian.
Ada satu waktu ketika gue punya kesempatan buat ngewawancara mereka untuk
kepentingan tugas sekolah, “bagaimana perasaan anda sekarang ketika akan
menghadapi sebuah Ujian Kenaikan kelas?”
Dia menjawab, ‘gue sih biasa aja yak, santai..
GAK KAYAK LO!’, Perkataan itu terasa menggema sekali di satu sekolah: GAK KAYAK
LO.. KAYAK LO.. LO... Seketika itu gue
gak mau ngewawancara lagi anak pinter di sekolah gue.
Setelah seminggu terakhir itu gue habiskan
untuk berkelit keras bersama pelajaran, malam yang kurang dinanti pun tiba, malam
hari sebelum ujian gue belajar dengan penuh semangat, tapi sang disayangkan,
banyak godaan-godaan kampret yang membuat gue krurang fokus belajar, seperti:
lapar yang gue alami di menit ke-22, novel komedi yang baru gue beli di toko
mainan, kuis berhadiah baju di twitter, episod terakhir dangdut akademi, main
gitar, minum, kepoi kakak kelas, main layangan.. Pada malam itu iman gue hampir
saja tergoyahkan, tapi akhirnya semua berjalan dengan selaras, gue juga udah tahu, pasti akan banyak cakra
yang keluar dari dalam diri gue.
Sampai suatu pagi
‘AKHIRNYA’, Hari pertama UKK tiba, gue
langsung meunju peta lokasi di depan kaca kelas gue, pada saat itu gue masih
bingung, ruangan delapan yang jadi tempat ujian gue itu dimana, akhirnya dengan
kejeniusan gue, gue nemuin ruangan delapan itu di kelas duabelas-1, kelas itu
gue kenal banget, kelas kakak cantik
yang gue ceritain di cerpen ‘cinta yang tak tersampaikan’. Tapi gue gak
langsung masuk ke kelas, seperti murid gaul lainnya yang nongkrong sok asik di halaman sekolah, kami anak-anak
kurang pergaulan juga ikut-ikutan nongkrong sok asik di luar kelas, di sana pun
kami membuat kerumunan dengan percakapan kami yang sangat bego. ‘Ko, kemarin
gue beli mi ayam di kantin harganya 5ribu loh. Turun dua ribu tuh, asik gak? Lo
beli?’
‘Lah bohong lu, kok gue kemarin nitip ke si
Roni katanya masih 7ribu? Yak gue kasih dia 7ribu lah’ itulah akibat dari
kurang pergaulan, “mudah ditipu”
‘teet..
teet.. teet..’ suara serangga keroyokan pun muncul dari sudut sekolah
‘Raziaaa.. raziaaa.. raziaaa’ gue dan beberapa
teman gue berkata seperti itu sembari lari kesana-kesini gak karuan, sampai akhirnya
kami disadarkan oleh penjaga sekolah dengan mukanya yang bersinar, ia berkata,
‘Heh tong!
Ini bel masuk, bukan razia!’, ketika gue mau ngejelasin, dia memotong perkataan
gue, ‘Bukan juga SERANGGA!’ sambil nunjuk ke arah gue. kami semua di sana
terdiam, susana pun menjadi hening.
Setelah kerusuhan yang terjadi di luar
ruangan, gue dan teman-teman pun masuk ke ruangan dengan ketek yang basah
kuyup, kami masuk belagak orang pintar yang gak pernah nyontek selama hidupnya,
ketika gue masuk ke kelas, tatapan tajam
bercahaya dari kakak kelas semuanya terarah ke gue. Tak lama kemudian Korosensei pun datang , setelah berdo’a
dan memberi salam, kertas ujian-pun dibagikan, ditemani waktu 90 menit yang
menurut gue sangat sangat menyengat pikiran gue saat itu, gue berharap
soal-soal yang keluar akan sama dengan apa yang gue pelajari semalam, walaupun
gak sama, berarti gue harus ngandelin pengetahuan dan pengalaman gue, bukan ngandelin
google dan hal kamfret lainnya.
Waktu terus berjalan, tak terasa waktu di jam
tangan gue udah nunjukin jam setengah
sembilan, setengah jam lagi waktu Ujian selesai, masih ada ada beberapa essai
yang belum gue kerjakan.. Ketika gue lagi asik-asiknya ngupil, teman di depan
bangku gue berdiri dan berbalik arah menatap tajam muka gue, dia terdiam
sejenak, tak lama setelah itu, dia tertawa jahat sambil berkata ‘GUE SELESAI!’,
gue lihat lubang hidungnyanya kembang kempis, bulu hidungnya menjuntai sampai
ke bangku gue. Dia membuat bulu kaki gue gemeteran, bulu ketek gue tambah
panjang, ternyata di tangan kanannya ada soal ujian yang telah ia jinakan, seketika
itu anak-anak menjadi ribut minta jawaban yang belum terisi, keributan mereka
semakin memperkeruh suasan kelas, rasanya gue pegen pipis di dalam celana.
Entah apa yang ada di dalam pikiran gue pada saat itu, gue melihat beberapa
teman gue yang mondar-mandir minta jawaban, bahkan mereka membuat suatu
kerumunan di bangku orang pintar ke-4 di kelas gue, itu menjadi senjata
terakhir di perjalanan terjal pada Ujian kali ini. otak gue berkata, gue pengin
gabung sama mereka, tapi pikiran gue yang jernih dan belagak pintar mendorong
gue untuk tida melakukan hal keji seperti itu, sikap gue yang belagak pintar
pada saat itu membawa suatu berkah tersendiri bagi gue, jawaban-jawaban
yang berterbangan di langit kelas
akhirnya ada yang mendarat mulus ke bangku gue, tanpa harus suah harus minta
jawaban yang membuat jari-jari gue pegal, jawaban itu seperti udah tahu bahwa
gue ketiak gue lagi basah-basahnya, dengan ketiak gue yang semakin basah gue
mengisi soal itu dengan rasa campur aduk.
‘TET!’ Bel istirahat pun berbunyi, gue
mengumpulkan kertas ujian dengan tangan gue yang kriting, Gue keluar kelas
dengan pandangan kosong, terik matahari saat itu menambah penyesalan gue karena
kurang fokus da;am belajar, sampai ada satu temen yang nyamperin kesendirian
gue pada saaat itu, ‘jajan yuk bro’ kata-kata itu sangat merusak kesendirian
gue, mukanya bersinar. ‘Yuk’, gue berkata, kami pergi ke kantin, ketika
ditengah perjalanan gue berkata sambil tersenyum lebar, ‘tapi gue minjem duit
lo dulu ya..’, perkataan itu membuat wajah teman gue menjadi polos tak berdosa..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar