Minggu, 12 Juli 2015

SEBUAH PERJUANGAN DALAM 90MENIT

Sebelum liburan kenaikan kelas yang harus gue resapi, beberapa minggu sebelum itu, gue dan  murid lainnya di sekolah harus berjuang di atas bangku-bangku yang penuh dengan coretan tip-ek, “aku sayang kamu, tapi sayang mantan juga.”
“kamu gak pernah peka mha aQ” Kalimat-kalimat absurd itu menambah betapa  panasnya pantat  gue pada saat itu
Banyak temen-temen gue yang terjangkit penyakit lebay seminggu sebelum ujian kenaikan kelas berlangsunng, apalagi ini ujian kenaikan kelas:  penentuan nasib seorang murid yang naik kelas ke tingkat selanjutnya atau sebaliknya.  Ujian ini juga merupakan ujian akhir bagi gue dan teman sekelas gue di ruangan yang sama, tapi ada beberapa teman gue yang otaknya agak encer  merasa biasa aja dengan yang namanya Ujian. Ada satu waktu ketika gue punya kesempatan buat ngewawancara mereka untuk kepentingan tugas sekolah, “bagaimana perasaan anda sekarang ketika akan menghadapi sebuah Ujian Kenaikan kelas?”
Dia menjawab, ‘gue sih biasa aja yak, santai.. GAK KAYAK LO!’, Perkataan itu terasa menggema sekali di satu sekolah: GAK KAYAK LO.. KAYAK LO..  LO... Seketika itu gue gak mau ngewawancara lagi anak pinter di sekolah gue.

Setelah seminggu terakhir itu gue habiskan untuk berkelit keras bersama pelajaran, malam yang kurang dinanti pun tiba, malam hari sebelum ujian gue belajar dengan penuh semangat, tapi sang disayangkan, banyak godaan-godaan kampret yang membuat gue krurang fokus belajar, seperti: lapar yang gue alami di menit ke-22, novel komedi yang baru gue beli di toko mainan, kuis berhadiah baju di twitter, episod terakhir dangdut akademi, main gitar, minum, kepoi kakak kelas, main layangan.. Pada malam itu iman gue hampir saja tergoyahkan, tapi akhirnya semua berjalan dengan selaras,  gue juga udah tahu, pasti akan banyak cakra yang keluar dari dalam diri gue.
Sampai suatu pagi

‘AKHIRNYA’, Hari pertama UKK tiba, gue langsung meunju peta lokasi di depan kaca kelas gue, pada saat itu gue masih bingung, ruangan delapan yang jadi tempat ujian gue itu dimana, akhirnya dengan kejeniusan gue, gue nemuin ruangan delapan itu di kelas duabelas-1, kelas itu gue kenal banget,  kelas kakak cantik yang gue ceritain di cerpen ‘cinta yang tak tersampaikan’. Tapi gue gak langsung masuk ke kelas, seperti murid gaul lainnya yang nongkrong  sok asik di halaman sekolah, kami anak-anak kurang pergaulan juga ikut-ikutan nongkrong sok asik di luar kelas, di sana pun kami membuat kerumunan dengan percakapan kami yang sangat bego. ‘Ko, kemarin gue beli mi ayam di kantin harganya 5ribu loh. Turun dua ribu tuh, asik gak? Lo beli?’
‘Lah bohong lu, kok gue kemarin nitip ke si Roni katanya masih 7ribu? Yak gue kasih dia 7ribu lah’ itulah akibat dari kurang pergaulan, “mudah ditipu”
 ‘teet.. teet.. teet..’ suara serangga keroyokan pun muncul dari sudut sekolah
‘Raziaaa.. raziaaa.. raziaaa’ gue dan beberapa teman gue berkata seperti itu sembari lari kesana-kesini gak karuan, sampai akhirnya kami disadarkan oleh penjaga sekolah dengan mukanya yang bersinar, ia  berkata,
 ‘Heh tong! Ini bel masuk, bukan razia!’, ketika gue mau ngejelasin, dia memotong perkataan gue, ‘Bukan juga SERANGGA!’ sambil nunjuk ke arah gue. kami semua di sana terdiam, susana pun menjadi hening.
Setelah kerusuhan yang terjadi di luar ruangan, gue dan teman-teman pun masuk ke ruangan dengan ketek yang basah kuyup, kami masuk belagak orang pintar yang gak pernah nyontek selama hidupnya,  ketika gue masuk ke kelas, tatapan tajam bercahaya dari kakak kelas semuanya terarah ke gue. Tak lama kemudian Korosensei pun datang , setelah berdo’a dan memberi salam, kertas ujian-pun dibagikan, ditemani waktu 90 menit yang menurut gue sangat sangat menyengat pikiran gue saat itu, gue berharap soal-soal yang keluar akan sama dengan apa yang gue pelajari semalam, walaupun gak sama, berarti gue harus ngandelin pengetahuan dan pengalaman gue, bukan ngandelin google dan hal kamfret lainnya.

Waktu terus berjalan, tak terasa waktu di jam tangan gue udah nunjukin  jam setengah sembilan, setengah jam lagi waktu Ujian selesai, masih ada ada beberapa essai yang belum gue kerjakan.. Ketika gue lagi asik-asiknya ngupil, teman di depan bangku gue berdiri dan berbalik arah menatap tajam muka gue, dia terdiam sejenak, tak lama setelah itu, dia tertawa jahat sambil berkata ‘GUE SELESAI!’, gue lihat lubang hidungnyanya kembang kempis, bulu hidungnya menjuntai sampai ke bangku gue. Dia membuat bulu kaki gue gemeteran, bulu ketek gue tambah panjang, ternyata di tangan kanannya ada soal ujian yang telah ia jinakan, seketika itu anak-anak menjadi ribut minta jawaban yang belum terisi, keributan mereka semakin memperkeruh suasan kelas, rasanya gue pegen pipis di dalam celana. Entah apa yang ada di dalam pikiran gue pada saat itu, gue melihat beberapa teman gue yang mondar-mandir minta jawaban, bahkan mereka membuat suatu kerumunan di bangku orang pintar ke-4 di kelas gue, itu menjadi senjata terakhir di perjalanan terjal pada Ujian kali ini. otak gue berkata, gue pengin gabung sama mereka, tapi pikiran gue yang jernih dan belagak pintar mendorong gue untuk tida melakukan hal keji seperti itu, sikap gue yang belagak pintar pada saat itu membawa suatu berkah tersendiri bagi gue, jawaban-jawaban yang  berterbangan di langit kelas akhirnya ada yang mendarat mulus ke bangku gue, tanpa harus suah harus minta jawaban yang membuat jari-jari gue pegal, jawaban itu seperti udah tahu bahwa gue ketiak gue lagi basah-basahnya, dengan ketiak gue yang semakin basah gue mengisi soal itu dengan rasa campur aduk.

‘TET!’ Bel istirahat pun berbunyi, gue mengumpulkan kertas ujian dengan tangan gue yang kriting, Gue keluar kelas dengan pandangan kosong, terik matahari saat itu menambah penyesalan gue karena kurang fokus da;am belajar, sampai ada satu temen yang nyamperin kesendirian gue pada saaat itu, ‘jajan yuk bro’ kata-kata itu sangat merusak kesendirian gue, mukanya bersinar. ‘Yuk’, gue berkata, kami pergi ke kantin, ketika ditengah perjalanan gue berkata sambil tersenyum lebar, ‘tapi gue minjem duit lo dulu ya..’, perkataan itu membuat wajah teman gue menjadi polos tak berdosa..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar