Semester gasal di kelas sebelas
ini gue lagi rentan galau.. gueudah kayak pantat balita, lebih tepatnya yang
keluar dari pantat balita.. hingga gue tersadar, bahwa akhir-akhir ini gue udah
jarangm mandi, jarang cuci muka, jarang minum kiranti.. Iya, gue lagi galau, biar
kinia kayak remaja lainnya.
Ada seorang wanita yang selalu
membuat gue resah tiap ke sekolah, membuat gue selalu tersenyum ketika buka
akun sosmed dia, dia seorang wanita yang membuat gue tahu, ternyata tak semua
bidadari bersayap, tak semua bidadari bisa terbang, tak semua bidadari tidak
makan. Namanya Ghansa, dia bseorang wanita berjilbab, kulitnya putih, tingginya
tak jauh dari gue, ini yang gue harapkan, kalau kita jadia gue gak terlihat
pendek di mata dia. Dia juga seorang wanita keturunan Arab, Dia gadis pindahan,
entah dari sekolah mana, yang gue tahu dia anak Gh4OooL, HITZ (peringatan:
bukan obat nyamuk/bukan boyben), genius, baik hati dan tidak sombong, sbc npa.
Namun masih seperti dulu, gue masih bego soal
perasaan, sekedar minta kenalan, atau minta nomer hapepun gue gak mampu
melakukan tindakan, setiap gue mencoba melakukan hal seperti itu, ada rasa
takut yang selalu berkeliaran di otak gue, gue takut dia tibatiba hilang
ingatan, atau dia pura-pura kesurupan, dan hal yang paling gue takut adalah,
dari awal emang dia udah gak suka sama gue, mungkin cenderung jijik dan muak
pengin muntah.
Efek
dari menyukai dia secara diam-diam, kehidupan gue jadi tertata rapi, gue jadi
sering sisiran, rambut gue rapi gak kayak beberapa bulan ke belakang (kayak buah
mangga bekas jilatan), tak lupa pakai parfum, pakai deodoran hingga ketiak gue
berkilauan, dan banyak hal lainnya yang membuat unsur positif tertanam dalam
diri gue.
Suatu
pagi dengn langit yang tertutup awan, seperti mendung yang menunggu hujan,
dengan sepatu basah gue berjalan menuju sekolah, gue masih dengan galau
mengiang-ngiang, di gerbang tampak senyuman terpaksa dari anak-anak anggota
organisasi yang memberikan ucapan selamat pagi kepada semua manusia di sekolah
gue, gue masih gaklau, namun gue
disadrkan di lbby sekolahyang dipenuhi anak-anak berwif gratis , ternyata di
dpean gue ada dia yang melangkahkan kakinya di setiap ubin sekolah, gue
mengikuti langkahnya, pandangan gue tak lepas darinya, hingga tanpa sadar gue
menginjak kotoran ayam, tapi gue hiraukan itu, dengan jalan yang tegak dan
kotoran ayam di sepatu gue, gue merasakan masa depan tepat ada depan langkah,
tepat dia yang harus gue jaga, harus gue sayang, harus gue bahagiakan, kami pun
dipisahkan di suatu belokan, kelas kami berbeda, gue semakin alay nulis cerpen
ini, di tangga kelas gue, tatapan ini tak mau lepas darinya, hingga akhirnya
dia masuk ke kelas, mungkin lo yang liat gue waktu itu, gue udah kayak orang
yang ngincer dompet wnaita cantik, syhit. Di kelas gue galau, gue dikira lagi
pengin boker sama temen-temen gue, namun emang gue juga lagi pengin boker.
Akhirnya,
pada istirahat pertama, di suatu jalan dekat lab biologi, gue berpas-pasan
dengan dia, mata kita saling bertatapan, rasa ini saling berbalasan, itu yang
gue harapkan.. Tatapan kita saling berlalu, seiring langkah yang mengakhiri
itu, namun gue harap dua meter kemudian tak ada rasa mual dan pengin muntah
dariefek muka gue.
Tapi
sampai saat ini, gue gak tau dia kenal gue atau enggak. Namun biar gue yang
mengenalkan dia pada diri gue, pada kepribadian gue, kehidupan gue, keluarga
gue, hingga gue dan dia menjadi ‘kita’ dari ketidaktahuan. Juga, Ternyata ada
satu unsur lagi yang harus gue masukan ke dalam list orang-orang yang harus gue
bahagiakan, dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar