Rabu, 16 Desember 2015



Semester gasal di kelas sebelas ini gue lagi rentan galau.. gueudah kayak pantat balita, lebih tepatnya yang keluar dari pantat balita.. hingga gue tersadar, bahwa akhir-akhir ini gue udah jarangm mandi, jarang cuci muka, jarang minum kiranti.. Iya, gue lagi galau, biar kinia kayak remaja lainnya.              
Ada seorang wanita yang selalu membuat gue resah tiap ke sekolah, membuat gue selalu tersenyum ketika buka akun sosmed dia, dia seorang wanita yang membuat gue tahu, ternyata tak semua bidadari bersayap, tak semua bidadari bisa terbang, tak semua bidadari tidak makan. Namanya Ghansa, dia bseorang wanita berjilbab, kulitnya putih, tingginya tak jauh dari gue, ini yang gue harapkan, kalau kita jadia gue gak terlihat pendek di mata dia. Dia juga seorang wanita keturunan Arab, Dia gadis pindahan, entah dari sekolah mana, yang gue tahu dia anak Gh4OooL, HITZ (peringatan: bukan obat nyamuk/bukan boyben), genius, baik hati dan tidak sombong, sbc npa.      
 Namun masih seperti dulu, gue masih bego soal perasaan, sekedar minta kenalan, atau minta nomer hapepun gue gak mampu melakukan tindakan, setiap gue mencoba melakukan hal seperti itu, ada rasa takut yang selalu berkeliaran di otak gue, gue takut dia tibatiba hilang ingatan, atau dia pura-pura kesurupan, dan hal yang paling gue takut adalah, dari awal emang dia udah gak suka sama gue, mungkin cenderung jijik dan muak pengin muntah.
Efek dari menyukai dia secara diam-diam, kehidupan gue jadi tertata rapi, gue jadi sering sisiran, rambut gue rapi gak kayak beberapa bulan ke belakang (kayak buah mangga bekas jilatan), tak lupa pakai parfum, pakai deodoran hingga ketiak gue berkilauan, dan banyak hal lainnya yang membuat unsur positif tertanam dalam diri gue.
Suatu pagi dengn langit yang tertutup awan, seperti mendung yang menunggu hujan, dengan sepatu basah gue berjalan menuju sekolah, gue masih dengan galau mengiang-ngiang, di gerbang tampak senyuman terpaksa dari anak-anak anggota organisasi yang memberikan ucapan selamat pagi kepada semua manusia di sekolah gue, gue masih gaklau,  namun gue disadrkan di lbby sekolahyang dipenuhi anak-anak berwif gratis , ternyata di dpean gue ada dia yang melangkahkan kakinya di setiap ubin sekolah, gue mengikuti langkahnya, pandangan gue tak lepas darinya, hingga tanpa sadar gue menginjak kotoran ayam, tapi gue hiraukan itu, dengan jalan yang tegak dan kotoran ayam di sepatu gue, gue merasakan masa depan tepat ada depan langkah, tepat dia yang harus gue jaga, harus gue sayang, harus gue bahagiakan, kami pun dipisahkan di suatu belokan, kelas kami berbeda, gue semakin alay nulis cerpen ini, di tangga kelas gue, tatapan ini tak mau lepas darinya, hingga akhirnya dia masuk ke kelas, mungkin lo yang liat gue waktu itu, gue udah kayak orang yang ngincer dompet wnaita cantik, syhit. Di kelas gue galau, gue dikira lagi pengin boker sama temen-temen gue, namun emang gue juga lagi pengin boker.

Akhirnya, pada istirahat pertama, di suatu jalan dekat lab biologi, gue berpas-pasan dengan dia, mata kita saling bertatapan, rasa ini saling berbalasan, itu yang gue harapkan.. Tatapan kita saling berlalu, seiring langkah yang mengakhiri itu, namun gue harap dua meter kemudian tak ada rasa mual dan pengin muntah dariefek muka gue.
Tapi sampai saat ini, gue gak tau dia kenal gue atau enggak. Namun biar gue yang mengenalkan dia pada diri gue, pada kepribadian gue, kehidupan gue, keluarga gue, hingga gue dan dia menjadi ‘kita’ dari ketidaktahuan. Juga, Ternyata ada satu unsur lagi yang harus gue masukan ke dalam list orang-orang yang harus gue bahagiakan, dia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar